Ruang Publik Belum Aman: Tren Outfit Longgar Melawan Catcalling

 

Oleh: Rizqi Nurhamidah

Naralensa.com_ Tangerang Belakangan, Media Sosial terutama TikTok di penuhi oleh tren yang tampaknya lucu tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh lebih serius. “Outfit anti catcalling.” Di banyak video viral, perempuan menunjukkan bagaimana mereka menyesuaikan pakaian sehari-hari memilih busana longgar, simpel, bahkan terlihat seperti gaya ibu-ibu. Di padukan antara hijab bergo, baju daster, outer, dan celana tidur. dengan satu tujuan yang jelas yaitu mengurangi catcalling atau pelecehan verbal di ruang publik. tren ini adalah refleksi nyata dari sebuah problem sosial yang makin mengakar di kehidupan sehari-hari, yaitu fenomena catcalling pelecehan verbal di ruang publik yang dialami terutama oleh perempuan. 


Catcalling sejenis pelecehan verbal di mana komentar seksual atau siulan diarahkan kepada orang yang lewat bukan fenomena baru. Tetapi kenyataannya, bagi banyak perempuan, catcalling tidak hanya “mengganggu” atau membuat rasa tidak nyaman, ia menciptakan lingkungan publik yang tidak aman secara psikologis dan fisik. Dalam konteks ini, tren outfit anti catcalling muncul sebagai respons adaptif perempuan mengubah gaya berpakaian mereka bukan karena keinginan fashion, tetapi sebagai strategi perlindungan diri dari komentar yang tidak diinginkan dan potensi intimidasi.

Sebuah survei internasional menemukan bahwa sekitar 77% perempuan di bawah Usia 34 tahun pernah mengalami catcalling di ruang umum, dan survei lain mencatat bahwa sekitar 80% responden pernah mengalami pelecehan verbal publik setidaknya sekali, dengan perempuan mengalami tiga kali lebih banyak dibanding laki-laki. Dampak emosionalnya nyata, banyak perempuan melaporkan rasa tidak aman, takut, dan khawatir akan keselamatan mereka, bahkan ketika mereka tidak sedang mengenakan pakaian yang secara tradisional dianggap “menarik perhatian.” Riset di Depok bahkan menemukan bahwa korban catcalling sering kali mengenakan pakaian tertutup seperti baju lengan panjang dan jilbab, namun tetap menjadi target pelecehan verbal.

Ironinya, meskipun catcalling merupakan bentuk kekerasan verbal yang berdampak negatif secara psikologis, perilaku ini sering dianggap “biasa” atau bahkan dipandang sebagai bentuk pujian oleh sebagian pihak, sehingga jarang ditanggapi serius oleh pelaku maupun masyarakat luas. Di Indonesia pun, menurut kajian Yuridis, tindakan catcalling sesungguhnya merupakan bagian dari pelecehan seksual verbal yang diatur dan bisa dijerat dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, namun sering kali tidak diproses karena masih dipandang enteng.

Catcalling sendiri bukan fenomena sepele, survei menyebut bahwa dalam survei pelecehan seksual di ruang publik di Indonesia pada 2019, 64% perempuan mengaku pernah mengalami pelecehan di ruang publik dan 60% dari mereka menyatakan bentuk pelecehan yang mereka alami berupa verbal atau ucapan seperti catcalling lebih tinggi dibanding sentuhan fisik atau sekadar tatapan mata. Hal ini menciptakan semacam paradoks sosial: perempuan diajarkan untuk tetap tenang, menahan diri, dan bahkan menyesuaikan pakaian mereka sendiri agar “tidak menarik perhatian” sementara perilaku yang membuat mereka merasa terancam terus berlangsung tanpa konsekuensi berarti bagi pelaku.

Di TikTok, hashtag seperti #SubwayShirt yang mengacu pada oversized top yang dipakai guna menetralisir perhatian pria yang tidak diinginkan telah menarik jutaan views. Banyak perempuan secara terbuka berbagi pengalaman mereka menyesuaikan outfit agar “kurang menarik perhatian” saat berada di transportasi umum atau atau di ruang publik. Tren ini terdiri dari kaus longgar, kemeja besar, atau pakaian santai yang secara sadar bertujuan mengaburkan siluet tubuh. Menurut beberapa kreator konten, ini bukan hanya tentang estetika, tetapi tentang menghindari tatapan, komentar, dan siulan yang membuat takut. 

Apa yang tampak sebagai tren fashion ternyata menunjukkan sebuah ironi sosial yang memprihatinkan. Alih-alih melembagakan perilaku sopan dan menghormati satu sama lain, masyarakat kita masih sering memaksa perempuan untuk “berubah” agar merasa aman. Para perempuan yang memilih outfit longgar menyerupai gaya ibu-ibu gaya yang secara sosial dipandang tidak menarik secara seksual melakukannya bukan karena tren itu menarik secara visual, tetapi karena mereka berharap mengurangi risiko menjadi target catcalling. Pilihan ini bicara banyak tentang bagaimana perempuan belajar menavigasi ruang publik dengan penuh strategi demi menghindari pelecehan. 

Fakta bahwa tren semacam ini viral juga mengundang refleksi mendalam: “mengapa perempuan harus menyesuaikan diri?”. “Tidakkah semestinya pelaku catcalling yang diperbaiki perilakunya, bukan korban yang harus menutupi diri?”. Pertanyaan ini relevan karena catcalling bukanlah sekadar komentar ringan banyak perempuan melaporkan pengalaman di mana ulah ini membuat mereka merasa terancam, terintimidasi, bahkan mengubah cara mereka beraktivitas di luar rumah. Menyamar di balik outfit longgar atau “tidak menarik” menjadi salah satu strategi bertahan hidup dalam realitas sosial yang belum sepenuhnya menghormati batasan pribadi dan kesetaraan gender. 

Tentu, tren ini tidak lahir dari kekosongan. Banyak perempuan sudah lama berbagi cerita tentang catcalling yang mereka alami, dari siulan di jalan sampai komentar seksual yang diarahkan kepada mereka tanpa diminta. Adanya tren outfit anti catcalling di TikTok menunjukkan bahwa pengalaman ini bukan insiden terisolasi, tetapi sesuatu yang dirasakan oleh banyak perempuan di berbagai belahan dunia, termasuk di negara kita sendiri. 

Namun perlu digarisbawahi, masalahnya bukan pada pakaian yang dipilih perempuan. Tragedi sosial catcalling terjadi karena masih banyak individu terutama pria yang merasa berhak mengomentari tubuh perempuan tanpa diminta, atau menganggap komentar yang merendahkan sebagai bentuk pujian. Menyalahkan pakaian korban hanya memperkuat budaya patriarki yang membiarkan perilaku semacam ini berlangsung begitu saja. Sebaliknya, tren outfit anti catcalling mestinya membuka ruang diskusi luas: bahwa solusi sejati bukan pada apa yang dipakai perempuan, melainkan pada bagaimana kita sebagai masyarakat mendidik, menghormati, dan menegakkan batasan interpersonal yang sehat. 

Tren ini pun menjadi panggilan untuk bertindak untuk mengubah percakapan sosial dan budaya yang selama ini membebani perempuan dengan tanggung jawab atas keselamatan mereka sendiri. Alih-alih hanya menjadi fenomena internet yang lucu dan menarik, tren outfit anti catcalling justru menantang kita untuk memandang lebih jauh daripada sekadar pakaian: yaitu pada akar masalah catcalling, pemahaman tentang persetujuan, dan bagaimana kita membentuk ruang publik yang aman, hormat, dan setara bagi semua orang
Lebih baru Lebih lama