Catcalling sejenis pelecehan verbal
di mana komentar seksual atau siulan diarahkan kepada orang yang lewat bukan
fenomena baru. Tetapi kenyataannya, bagi banyak perempuan, catcalling tidak
hanya “mengganggu” atau membuat rasa tidak nyaman, ia menciptakan lingkungan
publik yang tidak aman secara psikologis dan fisik. Dalam konteks ini, tren
outfit anti catcalling muncul sebagai respons adaptif perempuan mengubah gaya
berpakaian mereka bukan karena keinginan fashion, tetapi sebagai strategi
perlindungan diri dari komentar yang tidak diinginkan dan potensi intimidasi.
Sebuah survei internasional
menemukan bahwa sekitar 77% perempuan di bawah Usia 34 tahun pernah mengalami
catcalling di ruang umum, dan survei lain mencatat bahwa sekitar 80% responden
pernah mengalami pelecehan verbal publik setidaknya sekali, dengan perempuan
mengalami tiga kali lebih banyak dibanding laki-laki. Dampak emosionalnya nyata,
banyak perempuan melaporkan rasa tidak aman, takut, dan khawatir akan
keselamatan mereka, bahkan ketika mereka tidak sedang mengenakan pakaian yang
secara tradisional dianggap “menarik perhatian.” Riset di Depok bahkan
menemukan bahwa korban catcalling sering kali mengenakan pakaian tertutup
seperti baju lengan panjang dan jilbab, namun tetap menjadi target pelecehan
verbal.
Ironinya, meskipun catcalling
merupakan bentuk kekerasan verbal yang berdampak negatif secara psikologis,
perilaku ini sering dianggap “biasa” atau bahkan dipandang sebagai bentuk
pujian oleh sebagian pihak, sehingga jarang ditanggapi serius oleh pelaku
maupun masyarakat luas. Di Indonesia pun, menurut kajian Yuridis, tindakan
catcalling sesungguhnya merupakan bagian dari pelecehan seksual verbal yang
diatur dan bisa dijerat dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak
Pidana Kekerasan Seksual, namun sering kali tidak diproses karena masih
dipandang enteng.
Catcalling sendiri bukan fenomena
sepele, survei menyebut bahwa dalam survei pelecehan seksual di ruang publik di
Indonesia pada 2019, 64% perempuan mengaku pernah mengalami pelecehan di ruang
publik dan 60% dari mereka menyatakan bentuk pelecehan yang mereka alami berupa
verbal atau ucapan seperti catcalling lebih tinggi dibanding sentuhan fisik
atau sekadar tatapan mata. Hal ini menciptakan semacam paradoks sosial:
perempuan diajarkan untuk tetap tenang, menahan diri, dan bahkan menyesuaikan
pakaian mereka sendiri agar “tidak menarik perhatian” sementara perilaku yang
membuat mereka merasa terancam terus berlangsung tanpa konsekuensi berarti bagi
pelaku.
Di TikTok, hashtag seperti
#SubwayShirt yang mengacu pada oversized top yang dipakai guna menetralisir
perhatian pria yang tidak diinginkan telah menarik jutaan views. Banyak
perempuan secara terbuka berbagi pengalaman mereka menyesuaikan outfit agar
“kurang menarik perhatian” saat berada di transportasi umum atau atau di ruang
publik. Tren ini terdiri dari kaus longgar, kemeja besar, atau pakaian santai
yang secara sadar bertujuan mengaburkan siluet tubuh. Menurut beberapa kreator
konten, ini bukan hanya tentang estetika, tetapi tentang menghindari tatapan,
komentar, dan siulan yang membuat takut.
Apa yang tampak sebagai tren
fashion ternyata menunjukkan sebuah ironi sosial yang memprihatinkan. Alih-alih
melembagakan perilaku sopan dan menghormati satu sama lain, masyarakat kita
masih sering memaksa perempuan untuk “berubah” agar merasa aman. Para perempuan
yang memilih outfit longgar menyerupai gaya ibu-ibu gaya yang secara sosial
dipandang tidak menarik secara seksual melakukannya bukan karena tren itu menarik
secara visual, tetapi karena mereka berharap mengurangi risiko menjadi target
catcalling. Pilihan ini bicara banyak tentang bagaimana perempuan belajar
menavigasi ruang publik dengan penuh strategi demi menghindari pelecehan.
Fakta bahwa tren semacam ini viral
juga mengundang refleksi mendalam: “mengapa perempuan harus menyesuaikan diri?”.
“Tidakkah semestinya pelaku catcalling yang diperbaiki perilakunya, bukan
korban yang harus menutupi diri?”. Pertanyaan ini relevan karena catcalling
bukanlah sekadar komentar ringan banyak perempuan melaporkan pengalaman di mana
ulah ini membuat mereka merasa terancam, terintimidasi, bahkan mengubah cara
mereka beraktivitas di luar rumah. Menyamar di balik outfit longgar atau “tidak
menarik” menjadi salah satu strategi bertahan hidup dalam realitas sosial yang
belum sepenuhnya menghormati batasan pribadi dan kesetaraan gender.
Tentu, tren ini tidak lahir dari
kekosongan. Banyak perempuan sudah lama berbagi cerita tentang catcalling yang
mereka alami, dari siulan di jalan sampai komentar seksual yang diarahkan
kepada mereka tanpa diminta. Adanya tren outfit anti catcalling di TikTok
menunjukkan bahwa pengalaman ini bukan insiden terisolasi, tetapi sesuatu yang
dirasakan oleh banyak perempuan di berbagai belahan dunia, termasuk di negara
kita sendiri.
Namun perlu digarisbawahi,
masalahnya bukan pada pakaian yang dipilih perempuan. Tragedi sosial catcalling
terjadi karena masih banyak individu terutama pria yang merasa berhak
mengomentari tubuh perempuan tanpa diminta, atau menganggap komentar yang
merendahkan sebagai bentuk pujian. Menyalahkan pakaian korban hanya memperkuat
budaya patriarki yang membiarkan perilaku semacam ini berlangsung begitu saja.
Sebaliknya, tren outfit anti catcalling mestinya membuka ruang diskusi luas:
bahwa solusi sejati bukan pada apa yang dipakai perempuan, melainkan pada
bagaimana kita sebagai masyarakat mendidik, menghormati, dan menegakkan batasan
interpersonal yang sehat.

