Naralensa.com_Jakarta - Menurut saya, Sufmi Dasco Ahmad merupakan salah satu figur di parlemen yang memiliki kemampuan komunikasi massa yang sangat kuat. Yang menarik, komunikasi tersebut tidak dibangun hanya melalui forum-forum formal, tetapi juga melalui keberanian untuk hadir langsung ketika masyarakat menyampaikan aspirasi.
Kita bisa melihat bagaimana dalam berbagai momentum Dasco beberapa kali menemui massa aksi, menerima audiensi, berdialog dengan mahasiswa, buruh, organisasi masyarakat, tokoh gerakan maupun kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang.
Dengan mahasiswa misalnya, Dasco menerima dan berdialog langsung dengan perwakilan HMI, Universitas Trisakti, Universitas Mercu Buana, Universitas Esa Unggul dan sejumlah kampus lainnya. Dalam momentum tersebut, aspirasi mahasiswa tidak berhenti sebagai penyampaian tuntutan, tetapi dibawa ke komunikasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
Begitu pula ketika menerima Aliansi Masyarakat Pati Bersatu dan Supriyono alias Botok. Dasco memimpin langsung audiensi dengan perwakilan kelompok masyarakat tersebut di tengah agenda DPR yang sedang berlangsung.
Di kalangan buruh pun pola yang sama terlihat. Pada Hari Buruh 2026, pimpinan DPR yang dipimpin Dasco menerima audiensi Aliansi Gebrak yang terdiri dari berbagai organisasi buruh dan masyarakat sipil. Dan hari ini, setelah pengesahan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Dasco kembali hadir menemui massa buruh secara langsung.
Bagi saya, konsistensi seperti ini yang penting.
Tidak semua pejabat atau figur publik memiliki kemauan untuk secara aktif membuka ruang komunikasi dengan kelompok-kelompok yang datang membawa tuntutan, bahkan ketika tuntutan tersebut disampaikan melalui aksi massa. Dasco justru menunjukkan pola yang berbeda: datang, mendengar, berdialog, kemudian mencari jalur penyelesaian melalui kewenangan yang dimilikinya.
Inilah yang saya melihat sebagai komunikasi politik yang solutif. Bukan berarti seluruh persoalan selalu selesai dalam satu pertemuan, tetapi masyarakat mendapatkan akses langsung untuk menyampaikan persoalannya, sementara pemerintah dan parlemen mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang terjadi di lapangan.
Yang juga patut diapresiasi adalah spektrum kelompok yang ditemui cukup luas. Bukan hanya buruh dan mahasiswa, tetapi juga organisasi masyarakat, tokoh gerakan, kelompok profesi, hingga pemerintah daerah. Dasco menerima audiensi IGTKI-PGRI dan APKASI untuk mendengar persoalan yang mereka bawa.
Karena itu, saya melihat Sufmi Dasco bukan sekadar figur yang berada di balik meja parlemen, tetapi figur yang relatif aktif membangun jembatan komunikasi dengan masyarakat.
Dalam demokrasi, kemampuan mendengar sama pentingnya dengan kemampuan mengambil keputusan. Dan ketika seorang pimpinan lembaga negara bersedia turun menemui massa, menerima kritik, membuka ruang dialog, serta membawa aspirasi tersebut ke dalam mekanisme kelembagaan, menurut saya itu merupakan bentuk komunikasi publik yang sangat penting.
Kita jarang menemukan figur yang secara konsisten mampu menjaga komunikasi dengan begitu banyak kelompok masyarakat sekaligus. Dasco menunjukkan bahwa komunikasi massa bukan hanya soal bagaimana berbicara kepada masyarakat, tetapi juga bagaimana hadir ketika masyarakat membutuhkan saluran untuk menyampaikan persoalannya.
Pada akhirnya, ukuran komunikasi publik bukan hanya seberapa sering seorang pejabat berbicara, tetapi seberapa terbuka ia mendengar, seberapa cepat ia merespons, dan sejauh mana ia mampu mengubah aspirasi masyarakat menjadi pembahasan dan langkah penyelesaian di tingkat kelembagaan.
Gunawan
Koordinator Publik Peduli Demokrasi
Tags
nasional